Jumat, 19 April 2013

Pengalaman ^.^


Pengalaman Tes Psikologi PT. PJB
Yogyakarta, 16 April 2013


            Hoaaam… pagi itu jam 04.00 WIB, udah bangun trus siap-siap demi tes PJB. Jam 05.00 tet udah berangkat ke Stasiun Balapan demi ngejar Prameks yang jam pertama (baca keberangkatan 05.30), nggak perlu antri tiket siy, soalnya ada temen yang antriin hehehe!! Eh ternyata pagi-pagi stasiun udah bergeliat menampakkan aktivitasnya yang sesungguhnya, orang-orang pun nggak mau kalah, mereka udah pada siap buat berangkat ke Jogja, wah ternyata banyak yang nglajo juga. Tak disangka disana ketemu temen SD yang juga temen kuliah (beda jurusan siy), ternyata dia nglajo dari Solo ke Jogja, tiap hari (apa nggak capek banget tu), yah gapapa juga siy klo demi sesuap nasi dan sebongkah berlian kan ya hahaha.
            Next, perjalanan yang nggak tau berapa menit itu akhirnya terlewati, yang jelas kurang dari satu jam perjalanan (cepet banget kalau naik kereta ya, dibanding naik bus, tapi jangan dibandingin naik pesawat hahaha). Pemberhentianku sama si sohib yang juga ikutan tes PJB ini di Stasiun Maguwo, tu lho yang dekat sama Bandara Adi Sucipto, bandara kebanggaannya warga Jogja. Nah terus kami berdua bingung, naik apa ya ini nanti ke UPN (lokasi tes ada di UPN Condong Catur). Dari rumah siy rencananya kalau udah di Maguwo maunya naik taksi aja ke UPN Congcat, tapi nggak sengaja tadi ketemu adek-adek angkatan semasa kuliah yang juga mau tes PJB, alhasil teleponlah saya ke salah satu dari mereka. Ternyata mereka naik Trans Jogja, ya udah siy daripada bingung dan karena waktunya masih longgar (sekaligus ngirit ongkos), akhirnya diputuskan naik Trans Jogja aja ngikut adek-adek hahaha. Ternyata kami naik jurusan 3A, dan berhenti di shelter depan UPN, dan ternyata lagi perjalanannya nggak lama alias dekat. Dan akhirnya kami semua sampai di UPN, rombongan pun berpisah, saya sama temen ngeteh dulu di warung samping UPN, yang lain langsung pada ke Auditorium UPN.
            Jam 08.00 kurang lebih pintu ruangan dibuka sama ibu-ibu petugas, setelah kami nongkrongin tu pintu yang nggak dibuka-buka dari tadi. Para peserta tes disuruh masuk, ambil snack dan ngisi form biodata yang berapa lembar gitu lah. Akhirnya sekitar 08.30 orang-orang dari lembaga psikolog yang mau ngetes udah membuka acara, dan jreng-jreng tes dimulai..
            Tes pertama ada 9 jenis soal pilihan ganda, yang tiap 1 jenis soalnya ada sekitar 20 pertanyaan, oke inilah masing-masing jenis soalnya (tidak berdasarkan urutan tes) :
1.        Tes pertanyaan seputar pengetahuan pada umumnya. Agak aneh siy sebenarnya jenis soal yang ini hehehe. Contoh pertanyaannya seperti ini, “Berapa jarak Jakarta-Surabaya?”.
2.        Tes mengisi kata yang hilang dalam kalimat. Contoh pertanyaannya seperti ini, “Paman … usianya lebih tua dari kemenakannya?”, atau “Ayah … jauh berpengalaman dari anaknya.”, nah disana kita akan diberi pilihan a. biasanya b. kadang-kadang c. selalu, dst.
3.        Tes kubus. Ini termasuk jenis soal yang jauh dari kata saya sukai (mumet!!!), apa karena saya kurang punya daya imajinasi ya hahaha. Pertanyaannya ya tentang kubus yang dibolak-balik, siapakan daya imajinasi saja kalau menghadapi jenis soal macam begini (huhuhu).
4.        Tes isian kosong. Saya bingung menyebutnya apa, karena jenis soal ini sedikit berbeda dan cuma satu-satunya yang nggak pakai pilihan ganda alias mikir sendiri. Jenis soal yang ini seperti menyimpulkan hal-hal khusus menjadi hal-hal umum. Contoh pertanyaannya seperti ini, ada 2 kata ‘baju dan celana’ maka dapat disimpulkan keduanya adalah ‘pakaian’. Terus ada lagi, ‘gula - intan’, ‘telur - benih’, ‘bendera - lencana’, nah simpulkan sendiri ya hehehe…
5.        Tes tidak sekelompok. Jadi di tes ini kita mengeluarkan (memilih) satu kata dari beberapa pilihan yang nggak nyambung sama kata lainnya. Contoh pertanyaannya seperti ini, “a. jarak b. perpisahan c. batas d. perceraian e. pekerjaan”, “a. dahlia b. mawar c. sepatu d. melati e. flamboyan”, “a. mencaci b. mengetuk c. memalu d. mencangkul e. menggergaji”.
6.        Tes matematika. Tes ini berhubungan dengan hitung-hitungan, karena saya lama nggak belajar matematika alhasil zonk (hikzZ!!!). Contoh pertanyaannya seperti ini, “Sebuah perusahaan tekstil menjual 3/4 hasil produksinya ke luar negeri. Dari sisanya, 1/5 dijual ke dalam negeri, berapa persen hasil produksi yang tidak terjual?”
7.        Tes deret angka. Model tes ini tentu aja ada satu deret angka trus kita disuruh nyari angka yang selanjutnya. Contohnya banyak banget bisa ditemuin dimana aja. Dan sepertinya tes dimanapun model tes yang begini pasti ada ya.
8.        Tes ingatan. Saya menyebutnya demikian karena hanya diberi waktu 3 menit untuk mengingat beberapa kata dan kemudian kita mempraktekkannya dengan menjawab pertanyaan di soal-soal. Jadi ada beberapa kata yang harus dihafal, misal : ‘BURUNG - tetukur, nuri, elang, walet’ ‘BUNGA - dahlia, larat, flamboyan, sepatu’ ‘PERKAKAS - wajan, jarum, cangkul, palu’ ‘KESENIAN - opera, arca, ukiran, gamelan’ ‘BINATANG - rusa, musang, beruang, harimau’. Kemudian di soal ditanyakan, “Kata dengan permulaan huruf D adalah termasuk jenis?”. Dan sudah jelas D adalah Dahlia, termasuk jenis BUNGA. Tapi harap ingat yang harus kita hafal nggak sesederhana ini hahaha!!
9.        Tes bulat kotak. Saya menyebutnya demikian karena yang dibahas dalam tipe soal ini adalah menyatukan beberapa potongan gambar, untuk menjadi satu bentuk yang sesuai dengan pilihan yang ada. Golongan bulat terdiri dari lingkaran, setengah lingkaran, elips, dll. Sedangkan golongan kotak terdiri dari bentuk segiempat, jajar genjang, persegi panjang, dll. Masih sama dengan kubus, ini butuh imajinasi huhuhu.

            Nah setelah tes pertama dilewati, tes selanjutnya adalah tes kraeplin (nulisnya gimana ya hehe!!). Kalau untuk yang satu ini siy, mungkin kuncinya konsistensi, fokus, dan kecepatan menghitung. Sayang diri sendiri belum bisa nerapin, tau-tau sering blank gitu aja huhuhu. Setelah menjalani tes-tes tadi, akhirnya kami yang ikutan tes ketemu dengan yang namanya tes kepribadian, macam-macam jenisnya, ada yang dikasih buku warna hijau dan ungu, disuruh milih yang sesuai sama diri kita sendiri. Kemudian ada juga yang disuruh milih dari empat pernyataan yang ada mana yang “paling” sesuai dengan diri kita dan “kurang” sesuai dengan diri kita.
            Tes-tes tersebut diatas ternyata belum cukup untuk ukuran PT. PJB, oleh karena itu kami masih bertemu dengan tes yang berhubungan dengan gambar menggambar (eh pakai pensil HB lho ya, dan penghapus juga dilarang dipakai disini). Tes selanjutnya adalah wartegg test, pasti semua sudah pada tau kan model tes macam apa ini (sudah cetar membahana tes yang satu ini). Belum cukup juga, tes yang harus kami jalani lai adalah tes menggambar orang dan pohon (padahal dari TK nilai menggambar sudah jeblok, nggak bisa gambar, ampuuun deh).
            Varian tes-tes tadi kira-kira berakhir setengah satu siang, bayangin lama banget kan (lebay!!). Akhirnya kami para peserta tes bisa sedikit bernafas (leren-leren), sambil menikmati nasi kotak yang sudah disediakan panitia (untung dapat makan gratis, mau cari makan dimana hayo, masa harus tanya sama petanya si Dora). Eh iya, ternyata tes psikologi ini pakai FGD (forum group discussion), kami nggak dikasih tau sebelumnya, soalnya dipengumuman juga nggak ada (!!!). Disini kami para peserta dibagi dalam kelompok-kelompok, sekitar 10 orang per kelompok. Waktunya pun dibagi 3 bagian, yaitu jam 14.00-15.00, 15.00-16.00, dan 16.00-17.00. Kebetulan saya sendiri dapat jatah yang jam ke-2 alias jam 15.00-16.00, kebetulan juga kawan seperjalanan saya juga dapat jam yang sama (hore!!).
            Saya dan teman yang dapat jatah FGD jam ke-2, jadi lebih santai menikmati makan siang kami. Tapi kami juga bingung kira-kira materi FGD-nya apa nanti. Saya sendiri yang belum punya pengalaman FGD jadi kepikiran juga, mau nggak mau. Akhirnya sohib saya googling pakai tab-nya, siapa tau nemu materi FGD. Sampai pada akhirnya kami memutuskan acara nyari kisi-kisi FGD-nya dihentikan saja, soalnya tambah bikin ruwet (hahaha). Kalau dari pengalaman si sohib siy waktu dia tes Astra, FGD-nya tentang suatu produk gitu (riil), kalau kata teman saya dulu, dia ikut FGD juga tentang produk yang nyata, kemudian diskusi (kalau menurut dia lebih ke arah debat, soalnya pro kontra hehehe) mana manajemen dan strategi yang tepat. Akhirnya saya sama si sohib kepikiran, gimana kalau itu tentang produk PJB, dijamin kami mati kutu nanti (nggak mudeng!!). Jreng-jreng waktu FGD tlah tiba juga. Saya dapat kelompok 6, kelompok yang dipanggil masuk ruangan terakhir (nasib). Teman-teman sekelompok ya gitu dey, jadi minder kalau nanti saya nggak bisa bicara, bukan apa-apa, saya orangnya pendiam dan pemalu kalau bertemu orang baru. Dan ternyata materi FGD, bukan seperti yang saya takutkan, materinya lebih ke arah psikologi. Ada sebuah negara yang dalam keadaan perang, disana ada bunker dengan maksimal isi bunker 6 orang, jadi kami harus memilih 6 orang diantara 12 orang dengan karakterisik berbeda, ada perawat, mahasiswa kedokeran, pemuka agama, instruktur ketentaraan, gadis muda, pengrajin kayu terampil, pengrajin kayu pemula, peneliti biologi, ahli biokimia, dst. Pertama kami harus memilih 6 orang versi pribadi dan menuliskan alasannya (waktunya mepet, harus ekstra cepat mikir dan nulisnya). Kemudian yang kedua, kami harus memilih 6 orang yang masuk ke bunker versi kelompok, nah FGD pun dimulai. Pro kontra terjadi, adu argumen sudah pasti, tapi karena si mas yang ngawasin (sekaligus ngasih nilai) kelompok kami bilang waktunya tinggal 10 menit, akhirnya kami cepat-cepat nyelesain diskusi itu, dan nggak kurang nggak lebih, jam 16.00 tet kelompok kami selesai, padahal kami mulai terakhir, tapi kami selesai paling awal (senang!!). Dan ternyata FGD nggak sesusah yang dibayangin, saya bisa aktif ngomong juga di diskusi grup, kami sekelompok bisa saling menyanggah dan memperkuat argumen (like this!!).
            Selesai perjuangan hari itu, jam 16.00 lebih dikit, sambil nungguin si sohib yang belum keluar ruangan, saya melakukan persiapan untuk pulang ke Solo. Kali ini pulang hanya berdua, nggak bareng lagi sama adek-adek angkatan yang masih pada belum selesai. Kami pun naik Trans Jogja dari shelter yang ada di depan UPN, rencananya mau ke Stasiun Tugu, karena kalau naik kereta dari sana katanya masih dapat tempat duduk, tapi kalau dari Stasiun Maguwo bakalan berdiri sampai Solo. Waktu yang belum mepet (jadwal kereta jam 5 sore lebih), naiklah kami Trans Jogja, yang ternyata muter-muter, agak ngasal ini idenya, tapi beneran lama diperjalanan, apalagi si sohib udah komen nggak nyampe-nyampe dari tadi. Saking bosan (campur capek), begitu dengar kata Lempuyangan, kami mutusin turun di shelter itu (niatnya mau naik dari Stasiun Lempuyangan). Lebih asal lagi ternyata setelah dicari nggak nemu bentuk bangunan stasiun di sekitar shelter, daripada pusing naik becak lah kami berdua, 10 ribu. Dan setelah ditelusur ternyata emang jauh tu stasiun dari tempat shelter kami turun (hahaha payah). Tanpa babibu, setelah sampai ke Stasiun Lempuyangan beli tiket kereta, ternyata kereta yang saya naiki nanti adalah kereta Sriwedari, yang harga tiketnya 2x tiket Prameks, alias 20 ribu. Nunggu sebentar di stasiun, eh ada kereta Sriwedari lewat, tapi masih nerusin perjalan ke Stasiun Tugu dulu, ya udah kami ikutan naik saja, daripada di stasiun juga cuma bengong. Di Stasiun Tugu kami menunggu lama, tapi ada untungnya, karena kalau tidak naik kereta saat di Lempuyangan tadi, nanti saat kembali ke Lempuyangan lagi, tempat duduk sudah habis, alias kami berdiri (oh NO!!). Akhirnya kami menyusuri perjalanan menuju Solo di tengah langit yang mulai menggelap. Sampai saya dikejutkan dengan tangisan anak kecil yang duduknya nggak berapa jauh berseberangan dengan saya. Saya pikir kenapa, ternyata dia kena pecahan kaca jendela akibat lemparan batu oknum tidak bertanggungjawab. Satu gerbong jadi heboh, petugas dari KAI juga datang, katanya di gerbong lain juga pecah kacanya (wah.. wah.. jangan ditiru ini!!). Saya juga pernah mengalami ini, dulu sewaktu naik Prameks, jam kejadiannya juga hampir mirip, lokasi kejadiaannya juga sekitar situ, saya ingat betul, itu daerah setelah Stasiun Maguwo dan sebelum Stasiun Klaten, kereta yang saya naiki juga dilempari batu (kejam huhuhu). Pada akhirnya kereta yang saya tumpangi ini berhenti cukup lama di Stasiun Klaten, untuk membersihkan kaca-kacanya tadi. Dan adek kecil yang kena pecahan kaca tadi sudah pindah tempat, seberapa banyak dia terluka saya kurang tau jelas, bukan apa-apa, saya ngeri liatnya. Ternyata korbannya bukan dia saja di gerbong yang saya naiki, ada anak kecil lain, kira-kira usia SD gitu. Akhirnya jreng-jreng jam 19.00 kurang ternyata kereta Sriwedari ini sudah sampai di Stasiun Purwosari, saatnya saya turun dari kereta (tapi ninggalin si sohib di kereta, dia turun di Stasiun Balapan) dan bergegas pulang ke rumah, mengakhiri jalan-jalan (eh tes PJB dink hehehe) ke Jogja yang penuh cerita.

deeluvu




2 komentar: