Pengalaman Tes Psikologi PT. PJB
Yogyakarta, 16 April 2013
Hoaaam…
pagi itu jam 04.00 WIB, udah bangun trus siap-siap demi tes PJB. Jam 05.00 tet
udah berangkat ke Stasiun Balapan demi ngejar Prameks yang jam pertama (baca
keberangkatan 05.30), nggak perlu antri tiket siy, soalnya ada temen yang
antriin hehehe!! Eh ternyata pagi-pagi stasiun udah bergeliat menampakkan
aktivitasnya yang sesungguhnya, orang-orang pun nggak mau kalah, mereka udah
pada siap buat berangkat ke Jogja, wah ternyata banyak yang nglajo juga. Tak
disangka disana ketemu temen SD yang juga temen kuliah (beda jurusan siy),
ternyata dia nglajo dari Solo ke Jogja, tiap hari (apa nggak capek banget tu),
yah gapapa juga siy klo demi sesuap nasi dan sebongkah berlian kan ya hahaha.
Next,
perjalanan yang nggak tau berapa menit itu akhirnya terlewati, yang jelas kurang
dari satu jam perjalanan (cepet banget kalau naik kereta ya, dibanding naik
bus, tapi jangan dibandingin naik pesawat hahaha). Pemberhentianku sama si
sohib yang juga ikutan tes PJB ini di Stasiun Maguwo, tu lho yang dekat sama
Bandara Adi Sucipto, bandara kebanggaannya warga Jogja. Nah terus kami berdua
bingung, naik apa ya ini nanti ke UPN (lokasi tes ada di UPN Condong Catur).
Dari rumah siy rencananya kalau udah di Maguwo maunya naik taksi aja ke UPN
Congcat, tapi nggak sengaja tadi ketemu adek-adek angkatan semasa kuliah yang
juga mau tes PJB, alhasil teleponlah saya ke salah satu dari mereka. Ternyata
mereka naik Trans Jogja, ya udah siy daripada bingung dan karena waktunya masih
longgar (sekaligus ngirit ongkos), akhirnya diputuskan naik Trans Jogja aja
ngikut adek-adek hahaha. Ternyata kami naik jurusan 3A, dan berhenti di shelter
depan UPN, dan ternyata lagi perjalanannya nggak lama alias dekat. Dan akhirnya
kami semua sampai di UPN, rombongan pun berpisah, saya sama temen ngeteh dulu
di warung samping UPN, yang lain langsung pada ke Auditorium UPN.
Jam
08.00 kurang lebih pintu ruangan dibuka sama ibu-ibu petugas, setelah kami
nongkrongin tu pintu yang nggak dibuka-buka dari tadi. Para peserta tes disuruh
masuk, ambil snack dan ngisi form biodata yang berapa lembar gitu lah. Akhirnya
sekitar 08.30 orang-orang dari lembaga psikolog yang mau ngetes udah membuka
acara, dan jreng-jreng tes dimulai..
Tes
pertama ada 9 jenis soal pilihan ganda, yang tiap 1 jenis soalnya ada sekitar
20 pertanyaan, oke inilah masing-masing jenis soalnya (tidak berdasarkan urutan
tes) :
1.
Tes pertanyaan seputar pengetahuan pada umumnya.
Agak aneh siy sebenarnya jenis soal yang ini hehehe. Contoh pertanyaannya
seperti ini, “Berapa jarak Jakarta-Surabaya?”.
2.
Tes mengisi kata yang hilang dalam kalimat.
Contoh pertanyaannya seperti ini, “Paman … usianya lebih tua dari
kemenakannya?”, atau “Ayah … jauh berpengalaman dari anaknya.”, nah disana kita
akan diberi pilihan a. biasanya b. kadang-kadang c. selalu, dst.
3.
Tes kubus. Ini termasuk jenis soal yang jauh
dari kata saya sukai (mumet!!!), apa karena saya kurang punya daya imajinasi ya
hahaha. Pertanyaannya ya tentang kubus yang dibolak-balik, siapakan daya
imajinasi saja kalau menghadapi jenis soal macam begini (huhuhu).
4.
Tes isian kosong. Saya bingung menyebutnya apa,
karena jenis soal ini sedikit berbeda dan cuma satu-satunya yang nggak pakai
pilihan ganda alias mikir sendiri. Jenis soal yang ini seperti menyimpulkan
hal-hal khusus menjadi hal-hal umum. Contoh pertanyaannya seperti ini, ada 2
kata ‘baju dan celana’ maka dapat disimpulkan keduanya adalah ‘pakaian’. Terus
ada lagi, ‘gula - intan’, ‘telur - benih’, ‘bendera - lencana’, nah simpulkan
sendiri ya hehehe…
5.
Tes tidak sekelompok. Jadi di tes ini kita
mengeluarkan (memilih) satu kata dari beberapa pilihan yang nggak nyambung sama
kata lainnya. Contoh pertanyaannya seperti ini, “a. jarak b. perpisahan c.
batas d. perceraian e. pekerjaan”, “a. dahlia b. mawar c. sepatu d. melati e.
flamboyan”, “a. mencaci b. mengetuk c. memalu d. mencangkul e. menggergaji”.
6.
Tes matematika. Tes ini berhubungan dengan
hitung-hitungan, karena saya lama nggak belajar matematika alhasil zonk (hikzZ!!!).
Contoh pertanyaannya seperti ini, “Sebuah perusahaan tekstil menjual 3/4 hasil
produksinya ke luar negeri. Dari sisanya, 1/5 dijual ke dalam negeri, berapa
persen hasil produksi yang tidak terjual?”
7.
Tes deret angka. Model tes ini tentu aja ada
satu deret angka trus kita disuruh nyari angka yang selanjutnya. Contohnya
banyak banget bisa ditemuin dimana aja. Dan sepertinya tes dimanapun model tes
yang begini pasti ada ya.
8.
Tes ingatan. Saya menyebutnya demikian karena
hanya diberi waktu 3 menit untuk mengingat beberapa kata dan kemudian kita
mempraktekkannya dengan menjawab pertanyaan di soal-soal. Jadi ada beberapa
kata yang harus dihafal, misal : ‘BURUNG - tetukur, nuri, elang, walet’ ‘BUNGA
- dahlia, larat, flamboyan, sepatu’ ‘PERKAKAS - wajan, jarum, cangkul, palu’
‘KESENIAN - opera, arca, ukiran, gamelan’ ‘BINATANG - rusa, musang, beruang,
harimau’. Kemudian di soal ditanyakan, “Kata dengan permulaan huruf D adalah
termasuk jenis?”. Dan sudah jelas D adalah Dahlia, termasuk jenis BUNGA. Tapi
harap ingat yang harus kita hafal nggak sesederhana ini hahaha!!
9.
Tes bulat kotak. Saya menyebutnya demikian
karena yang dibahas dalam tipe soal ini adalah menyatukan beberapa potongan
gambar, untuk menjadi satu bentuk yang sesuai dengan pilihan yang ada. Golongan
bulat terdiri dari lingkaran, setengah lingkaran, elips, dll. Sedangkan golongan
kotak terdiri dari bentuk segiempat, jajar genjang, persegi panjang, dll. Masih
sama dengan kubus, ini butuh imajinasi huhuhu.
Nah
setelah tes pertama dilewati, tes selanjutnya adalah tes kraeplin (nulisnya gimana ya hehe!!). Kalau untuk yang satu ini
siy, mungkin kuncinya konsistensi, fokus, dan kecepatan menghitung. Sayang diri
sendiri belum bisa nerapin, tau-tau sering blank
gitu aja huhuhu. Setelah menjalani tes-tes tadi, akhirnya kami yang ikutan tes
ketemu dengan yang namanya tes kepribadian, macam-macam jenisnya, ada yang
dikasih buku warna hijau dan ungu, disuruh milih yang sesuai sama diri kita
sendiri. Kemudian ada juga yang disuruh milih dari empat pernyataan yang ada
mana yang “paling” sesuai dengan diri kita dan “kurang” sesuai dengan diri
kita.
Tes-tes
tersebut diatas ternyata belum cukup untuk ukuran PT. PJB, oleh karena itu kami
masih bertemu dengan tes yang berhubungan dengan gambar menggambar (eh pakai
pensil HB lho ya, dan penghapus juga dilarang dipakai disini). Tes selanjutnya
adalah wartegg test, pasti semua
sudah pada tau kan model tes macam apa ini (sudah cetar membahana tes yang satu
ini). Belum cukup juga, tes yang harus kami jalani lai adalah tes menggambar
orang dan pohon (padahal dari TK nilai menggambar sudah jeblok, nggak bisa
gambar, ampuuun deh).
Varian
tes-tes tadi kira-kira berakhir setengah satu siang, bayangin lama banget kan
(lebay!!). Akhirnya kami para peserta tes bisa sedikit bernafas (leren-leren),
sambil menikmati nasi kotak yang sudah disediakan panitia (untung dapat makan
gratis, mau cari makan dimana hayo, masa harus tanya sama petanya si Dora). Eh
iya, ternyata tes psikologi ini pakai FGD (forum
group discussion), kami nggak dikasih tau sebelumnya, soalnya dipengumuman
juga nggak ada (!!!). Disini kami para peserta dibagi dalam kelompok-kelompok,
sekitar 10 orang per kelompok. Waktunya pun dibagi 3 bagian, yaitu jam
14.00-15.00, 15.00-16.00, dan 16.00-17.00. Kebetulan saya sendiri dapat jatah
yang jam ke-2 alias jam 15.00-16.00, kebetulan juga kawan seperjalanan saya
juga dapat jam yang sama (hore!!).
Saya dan
teman yang dapat jatah FGD jam ke-2, jadi lebih santai menikmati makan siang
kami. Tapi kami juga bingung kira-kira materi FGD-nya apa nanti. Saya sendiri
yang belum punya pengalaman FGD jadi kepikiran juga, mau nggak mau. Akhirnya
sohib saya googling pakai tab-nya, siapa tau nemu materi FGD. Sampai pada
akhirnya kami memutuskan acara nyari kisi-kisi FGD-nya dihentikan saja, soalnya
tambah bikin ruwet (hahaha). Kalau dari pengalaman si sohib siy waktu dia tes
Astra, FGD-nya tentang suatu produk gitu (riil), kalau kata teman saya dulu,
dia ikut FGD juga tentang produk yang nyata, kemudian diskusi (kalau menurut
dia lebih ke arah debat, soalnya pro kontra hehehe) mana manajemen dan strategi
yang tepat. Akhirnya saya sama si sohib kepikiran, gimana kalau itu tentang
produk PJB, dijamin kami mati kutu nanti (nggak mudeng!!). Jreng-jreng waktu FGD
tlah tiba juga. Saya dapat kelompok 6, kelompok yang dipanggil masuk ruangan
terakhir (nasib). Teman-teman sekelompok ya gitu dey, jadi minder kalau nanti
saya nggak bisa bicara, bukan apa-apa, saya orangnya pendiam dan pemalu kalau
bertemu orang baru. Dan ternyata materi FGD, bukan seperti yang saya takutkan,
materinya lebih ke arah psikologi. Ada sebuah negara yang dalam keadaan perang,
disana ada bunker dengan maksimal isi
bunker 6 orang, jadi kami harus
memilih 6 orang diantara 12 orang dengan karakterisik berbeda, ada perawat,
mahasiswa kedokeran, pemuka agama, instruktur ketentaraan, gadis muda, pengrajin
kayu terampil, pengrajin kayu pemula, peneliti biologi, ahli biokimia, dst.
Pertama kami harus memilih 6 orang versi pribadi dan menuliskan alasannya
(waktunya mepet, harus ekstra cepat mikir dan nulisnya). Kemudian yang kedua,
kami harus memilih 6 orang yang masuk ke bunker
versi kelompok, nah FGD pun dimulai. Pro kontra terjadi, adu argumen sudah
pasti, tapi karena si mas yang ngawasin (sekaligus ngasih nilai) kelompok kami
bilang waktunya tinggal 10 menit, akhirnya kami cepat-cepat nyelesain diskusi
itu, dan nggak kurang nggak lebih, jam 16.00 tet kelompok kami selesai, padahal
kami mulai terakhir, tapi kami selesai paling awal (senang!!). Dan ternyata FGD
nggak sesusah yang dibayangin, saya bisa aktif ngomong juga di diskusi grup, kami
sekelompok bisa saling menyanggah dan memperkuat argumen (like this!!).
Selesai
perjuangan hari itu, jam 16.00 lebih dikit, sambil nungguin si sohib yang belum
keluar ruangan, saya melakukan persiapan untuk pulang ke Solo. Kali ini pulang
hanya berdua, nggak bareng lagi sama adek-adek angkatan yang masih pada belum
selesai. Kami pun naik Trans Jogja dari shelter yang ada di depan UPN,
rencananya mau ke Stasiun Tugu, karena kalau naik kereta dari sana katanya
masih dapat tempat duduk, tapi kalau dari Stasiun Maguwo bakalan berdiri sampai
Solo. Waktu yang belum mepet (jadwal kereta jam 5 sore lebih), naiklah kami
Trans Jogja, yang ternyata muter-muter, agak ngasal ini idenya, tapi beneran
lama diperjalanan, apalagi si sohib udah komen nggak nyampe-nyampe dari tadi.
Saking bosan (campur capek), begitu dengar kata Lempuyangan, kami mutusin turun
di shelter itu (niatnya mau naik dari Stasiun Lempuyangan). Lebih asal lagi
ternyata setelah dicari nggak nemu bentuk bangunan stasiun di sekitar shelter,
daripada pusing naik becak lah kami berdua, 10 ribu. Dan setelah ditelusur
ternyata emang jauh tu stasiun dari tempat shelter kami turun (hahaha payah). Tanpa
babibu, setelah sampai ke Stasiun Lempuyangan beli tiket kereta, ternyata
kereta yang saya naiki nanti adalah kereta Sriwedari, yang harga tiketnya 2x
tiket Prameks, alias 20 ribu. Nunggu sebentar di stasiun, eh ada kereta
Sriwedari lewat, tapi masih nerusin perjalan ke Stasiun Tugu dulu, ya udah kami
ikutan naik saja, daripada di stasiun juga cuma bengong. Di Stasiun Tugu kami
menunggu lama, tapi ada untungnya, karena kalau tidak naik kereta saat di
Lempuyangan tadi, nanti saat kembali ke Lempuyangan lagi, tempat duduk sudah
habis, alias kami berdiri (oh NO!!). Akhirnya kami menyusuri perjalanan menuju
Solo di tengah langit yang mulai menggelap. Sampai saya dikejutkan dengan
tangisan anak kecil yang duduknya nggak berapa jauh berseberangan dengan saya.
Saya pikir kenapa, ternyata dia kena pecahan kaca jendela akibat lemparan batu
oknum tidak bertanggungjawab. Satu gerbong jadi heboh, petugas dari KAI juga
datang, katanya di gerbong lain juga pecah kacanya (wah.. wah.. jangan ditiru
ini!!). Saya juga pernah mengalami ini, dulu sewaktu naik Prameks, jam
kejadiannya juga hampir mirip, lokasi kejadiaannya juga sekitar situ, saya
ingat betul, itu daerah setelah Stasiun Maguwo dan sebelum Stasiun Klaten,
kereta yang saya naiki juga dilempari batu (kejam huhuhu). Pada akhirnya kereta
yang saya tumpangi ini berhenti cukup lama di Stasiun Klaten, untuk
membersihkan kaca-kacanya tadi. Dan adek kecil yang kena pecahan kaca tadi
sudah pindah tempat, seberapa banyak dia terluka saya kurang tau jelas, bukan
apa-apa, saya ngeri liatnya. Ternyata korbannya bukan dia saja di gerbong yang
saya naiki, ada anak kecil lain, kira-kira usia SD gitu. Akhirnya jreng-jreng
jam 19.00 kurang ternyata kereta Sriwedari ini sudah sampai di Stasiun
Purwosari, saatnya saya turun dari kereta (tapi ninggalin si sohib di kereta,
dia turun di Stasiun Balapan) dan bergegas pulang ke rumah, mengakhiri
jalan-jalan (eh tes PJB dink hehehe) ke Jogja yang penuh cerita.
deeluvu

